Showing posts with label Siri Belajar Tasawuf. Show all posts
Showing posts with label Siri Belajar Tasawuf. Show all posts

Monday, December 8, 2014

Siri Belajar Tasawuf 23: Jiwa adalah hak Tuhan

Jiwa adalah hak Tuhan. Mengapa ada ketika jiwa mau mencegah dan kadang membiarkannya?

Perlu kita semua ingat,
bahwa di dalam raga ini terdapat nafsu-nafsu.

Jika nafsu kuat menguasai,
maka jiwa menjadi terbelenggu.

Karena itulah mengapa dikatakan
bahwa
kehidupan sekarang ini
adalah kematian.

Sedangkan
setelah ajal
merupakan awal kehidupan.

Sesudah kematian
maka seseorang akan mencapai
kebebasan jiwanya.

Ajaran Syekh Siti Jenar memang dengan ajaran para Walisongo.
Siti Jenar mengajarkan bahwa
Tuhan adalah Zat yang mendasari adanya
manusia,
hewan,
tumbuhan
dan segala yang ada.

Adanya segala di dunia ini tergantung pada adanya Zat.
Tanpa ada Zat Yang Mahakuasa,
maka mustahil sesuatu yang wujud itu ada.

Ajaran ini tidak pernah disampaikan oleh para Walisongo.
Mereka menyadari bahwa umatnya masih terlalu awam terhadap Islam,
sehingga memberi ilmu yang ringan dan mudah difahami saja.

Gunakanlah ilmu yang anda ada untuk mencari ilmu dan guru sejati.

Monday, December 1, 2014

Siri Belajar Tasawuf 22: Raga berdosa tetapi jiwa bersalah

Jika sekarang ini kita berbuat dosa. Apakah jiwa kita bertanggungjawab. Sedangkan yang melakukan dosa adalah raga kita?

Tetap ikut bertanggungjawab,
karena jiwa yang menyatu ke dalam raga
tidak bisa mencegah hawa nafsunya
serta
akal yang suka berbuat buruk.

Ketahuilah,
setiap orang yang lahir di dunia ini
maka jiwanya menyatu dengan akalnya

Selain akal dalam diri manusia j
uga ada hawa nafsu.

Ketika seseorang berbuat buruk,
 berarti raganya didorong
dan dipengaruhi
oleh hawa nafsu
dan akalnya.

Akal dan nafsu
memang suka
berbuat buruk.

Apabila jiwa mencegah
melalui hati nurani,
maka raga
tidak akan berbuat buruk.

Akan tetapi jika jiwa membiarkannya,
maka raga tetap melakukannya.

Monday, November 24, 2014

Siri Belajar Tasawuf 21: kehidupan yang sebenar-benarnya

Jika demikian badan ini tidak mampu untuk merasakan kehidupan yang sebenar-benarnya?

Ya, tidak mampu.
Kehidupan sejati tidak dapat dirasakan oleh raga,
karena jika raga mati
akan tetapi dapat dirasakan
oleh jiwa.

Membusuk jadi tanah.

Monday, November 17, 2014

Siri Belajar Tasawuf 20:

Apakah yang dimaksud jalan kehidupan?

Jalan kehidupan
adalah jalan menuju kepada
hidup yang sebenar-benarnya,
setelah kita mengalami kematian.

Jika seorang bayi lahir,
maka bukanlah awal kehidupan,
namun
merupakan awal “kehidupan palsu”
seperti yang kita rasakan saat ini.

Inilah yang sesungguhnya kematian sejati.

Monday, November 10, 2014

Siri Belajar Tasawuf 19: Dunia-Raga-Jiwa-Akhirat

Dunia erat kaitannya dengan raga kita, sedangkan jiwa erat kaitannya dengan alam akhirat?

Benar, dunia itu erat kaitannya dengan raga.
Raga mempunyai sifat seperti alam semesta, yang semula baru kemudian rusak.

Sedangkan jiwa tidak akan mengenal kerusakan karena jiwa merupakan penjelmaan Ruh Allah.
Ketahuilah bahwa raga adalah barang pinjaman yang suatu saat akan diminta oleh Pemiliknya.
Raga ini sesungguhnya sangkar yang membelenggu dan menyulitkan jiwa.
Agar jiwa menjadi bebas,
maka suatu saat kelak,
kita akan tahu bagaimana cara melepas jiwa dari raga.

Ilmu melepas jiwa
bererti
kematian adalah titik awal kehidupan yang sebenarnya.

Jika seseorang raganya mati, maka jiwanya menjadi merdeka, bebas dan tidak terkungkung lagi. Sebab raga berhubungan erat dengan alam semesta. Sedangkan jiwa berhubungan erat dengan Ruh Tuhan.

Selamanya jiwa tak akan mati atau rosak.

Monday, November 3, 2014

Siri Belajar Tasawuf 18: apakah sudah ada dunia lainnya

Adalah sebelum ada dunia ini, apakah sudah ada dunia lainnya. Atau setelah kiamat, apakah Tuhan membuat dunia baru lagi seperti sekarang?

Sebelum dunia ada, apakah ada dunia lain, itu hanya Allah yang tahu.
Tetapi sekarang kita berada di dunia ini menempati ruang dan waktu.
Dunia ini asalnya adalah baru.
Kemudian mengalami kerusakan dan kelak akhirnya menjadi hancur.
Lenyap tak berharga.
Setelah kiamat, apakah Tuhan membuat dunia baru untuk keduakalinya?
Tidak!

Monday, October 27, 2014

Siri Belajar Tasawuf 17: Adakah bebar adanya surga dan neraka

Jadi! Surga dan Neraka di akhirat tidak ada?

Surga dan Neraka
di hari kiamat,
di akhirat kelak, sudah diterangkan dalam Qur’an.

Itu perkara gaib dan erat kaitannya dengan iman.

Kita wajib meyakininya.

Tetapi untuk apa meyakini? Jika di dunia kita berbudi baik dan beriman kepada Allah sudah merasakan Surga. Sedangkan Surga dan Neraka di akhirat hanyalah bersifat menakut-nakuti manusia agar tidak berbuat buruk.

Kita jangan fokus pada persoalan, apakah di akhirat ada Surga dan Neraka.

Itu urusan Zat Allah.
Kita harus meyakini.
Karena meyakini hari akhir merupakan rukun iman.

Ingat, untuk mendapatkan Surga pun kita tak perlu menunggu datangnya hari akhir.

Walaupun ada yang sembahyang seribu kali setiap hari.
Akhirnya mati juga.

Walaupun badan kita ditutup dengan serban dan jubah, namun akhirnya menjadi debu juga.

Maka jiwalah yang paling penting.
Jika keadaan jiwa sesuai dengan kehendak Allah. maka Surga akan kita dapat . Kenikmatan luar biasa akan dirasakan.

Monday, October 20, 2014

Siri Belajar Tasawuf 15: adakah Surga dan Neraka?

Benarkah sesudah kematian ada Surga dan Neraka?

Para wali memang mengajarkan demikian.
Inilah ajaran yang pada satu sudut 'mungkin' boleh dikatakan 'tak habis' karena terlalu singkat. Atau juga mungkin juga betul dari satu sudut yang cetek atau tohor.

Para wali hanya mengajarkan "kulitnya", tidak sampai pada isinya; tidak sampai pada hakikat yang sebenarnya.

Para wali mengajarkan bahwa Surga dan Neraka hanya dijumpai kelak setelah kiamat.

Adanya di akhirat.

Dan orang-orang awam 'terpaksa' menelan bulat-bulat kenyataan sebegini.

Siksa kubur hanya dijumpai dan dirasakan badan jasad ketika di tanam di kubur.

Para wali memang bertujuan baik,
tetapi diputus sampai di situ. Mereka enggan menjelaskan lebih dalam dan lebih sampai pada makna yang hakiki.

Untuk menemui dan merasakan Surga dan Neraka maka seseorang tidak harus menunggu sampai mati atau sampai datangnya kiamat.

Di dunia ini saja kita sudah dapat merasakan Surga dan siksa Neraka.

Karena sesungguhnya Surga dan Neraka itu berada di dalam jiwa kalian.

Berada di dalam jiwa setiap manusia yang bernafas.

Jika jiwa manusia telah bersih dari gangguan hawa nafsu dan dapat Mengabadikan diri kepada  Allah SWT, maka di dunia ini ia akan merasakan suatu kenikmatan Surga.

Jika budi kita, misalnya menolong orang lemah, lalu hati menjadi ikhlas dan puas, maka itulah yang disebut Surga.

Sedangkan Neraka, perwujudannya adalah jika hawa nafsu telah menguasai diri seseorang.

Kemudian jiwanya meronta dan merasa bersalah.

Maka dia tentu tersiksa. Ia tidak bisa tidur, gelisah fikirannya, sedih dan bermacam-macam rasa tak tentu arah. Itulah yang dinamakan Neraka.

Monday, October 13, 2014

Siri Belajar Tasawuf 14: yang cantik, segak dan gagah

Di dunia ini ada yang cantik, segak dan gagah. Bagaimana kedudukan orang-orang tersebut jika kelak telah terlepas rohnya?

Kita tidak boleh mencintai dan mengagumi bentuk yang
cantik,
segak atau
gagah.

Sebab, badan (jasad)
laksana sangkar
yang mengurung jiwa.
Badan adalah beban yang
'memberatkan' dan 'menyakitkan'
roh kita..

Monday, October 6, 2014

Siri Belajar Tasawuf 13: menggunakan akal

Kita harus menggunakan akal sesuai dengan jiwa kita dan kehendak Allah?

Benar.
Jika seseorang mampu mengendalikan akalnya
dengan kehendak Allah,
dengan kebenaran, dan
dengan jiwa yang bersih,
maka ia bermanfaat.
Menjadikan diri kita lebih mulia.

Jangan mementingkan kehidupan duniawi.
Sebab kehidupan duniawi
yang kita tempoh sekarang
penuh dengan 'kotoran'.

Akal kita mudah tercemar dengan 'kotoran sifat' dan
mudah dikuasai oleh nafsu,
sehingga menghalangi kita
untuk menuju pada tahap
Pengabadian Diri Kepada Allah SWT.

Monday, September 29, 2014

Siri Belajar Tasawuf 12. Bukankah manusia lebih mulia diberi akal?

Bukankah manusia ebih mulia diberi akal?

Ya, itulah yang membezakan

Tapi
jangan lupa bahwa
akal seringkali tidak jujur.

Sering bersifat
dengki,
memaksa,
melanggar aturan,
jahat,
suka disanjung-sanjung,
sombong,
yang ahirnya membuat manusia
tidak berharga samasekali.

Lebih hina dari makhluk lainnya.

Monday, September 22, 2014

Siri Belajar Tasawuf 11. Bagaimanakah mahu mendapat kebenaran dan kebahagian sejati?

Bagaimanakah mahu mendapat kebenaran dan kebahagian sejati?

Jiwa manusia adalah suara hati nurani.
suara hati nurani merupakan ungkapan Ruh Allah
yang harus ditaati perintahnya.
Maka ikutilah hati nuranimu.

Kita harus cermat,
karena hati nurani berbeda dengan akal budi,
jiwa itu milik Allah,
sedangkan akal milik manusia.

Akal bersifat manusiawi,
karena itu kadang-kadang
akal tak mampu menemukan keajaiban Allah.

Kehendak,
angan-angan,
ingatan,
merupakan suatu akal yang tak kebal atas kegilaan.

Suatu ketika akal bisa menjadi bingung
sehingga membuat seseorang lupa diri.

Akal seringkali tidak jujur.
Siang malam membuat kepalsuan
demi memakmurkan kepentingan pribadi.

Monday, September 15, 2014

Siri Belajar Tasawuf 10. Jika seseorang sudah mati, berarti selesai sudah kehidupannya?

Jika seseorang sudah mati, berarti selesai sudah kehidupannya?

Tidak benar.

Meskipun jasadnya mati,
 tetapi sebenarnya ia tidaklah mati.

Karena itu, kita semua harus mengerti
bahwa dunia ini sesungguhnya
bukanlah kehidupan.
Buktinya ada mati.

Di dunia ini,
kehidupan disebut kematian.

Cuba rasakan!

Kita diajar untuk tidak menyintai dunia dan
tidak terpesona terhadap keindahannya.

Carilah kebenaran dan
kebahagiaan sejati
demi kehidupan mendatang,
kehidupan setelah kematian.

Kita akan lebih berarti jika telah menemui
kematian dan hidup sesudah itu.

Kita harus memilih hidup yang tak bisa mati.

Dan hidup yang tak mati itu hanya
kita rasakan setelah nyawa terlepas dari badan.

Kehidupan itu akan dapat dirasakan
tanpa gangguan seperti sekarang ini.

Ketahuilah,
hidup yang sesungguhnya
adalah setelah nyawa lenyap dari badan.

Monday, September 8, 2014

Siri Belajar Tasawuf 9. Ruh Yang Luhur dan Sejati itu siapa?

Ruh Yang Luhur dan Sejati itu bagaimana?

Zat  Allah.

Zat Allah adalah Ruh yang tinggi
dan terhormat.

IA memiliki dua puluh sifat,
semua timbul atas kehendakNya.

IA mampu mencurahkan
ilmu kebesaran,
ilmu kasampurnan,
ilmu kebaikan,
ilmu keramahan,
ilmu kekebalan
dalam segala bentuk,
memerintah umat.

Dapat muncul di segala tempat dan sakti sekali.

Kita perlu merasa wajib dan menuruti kehendakNya.

dengan kesungguhan
selalu kuat cita-citanya,
kukuh tak goyang terhadap sesuatu yang tidak suci,
berpegang teguh kepadaNya selama hidup,
tak akan menyembah terhadap ciptaanNya,
baik dalam wujud maupun dalam pengertian.

Monday, September 1, 2014

Siri Belajar Tasawuf 8. Apakah tuntunan pakaian seseorang bersolat?

Apakah tuntunan pakaian seseorang bersolat?

Sesungguhnya ada yang tidak sependapat
mengenai pakaian dalam meniru-niru
pakaian orang Arab dalam melakukan solat.

Jika selesai solat, jubah itu ditanggalkan.
Sedangkan salat orang tersebut tidaklah menyentuh hatinya.

Meskipun berlama-lama duduk di Masjid,
namun masih mencintai duniawi.

Sembahyang yang pakaiannya sebegitu
duduk di Masjid berlama-lama
sampai lupa tanggungjawab
kepada anak isteri dan tugasi.

Sedangkan ia masih mencintai duniawi
dan melayan nafsu manusiawinya.

Bahkan dalam kehidupan sehari-hari,
ia seringkali menyusahkan orang lain.

Maka orang yang demikian itu
tidak terpengaruh oleh sembahyang yang dilakukan.

Biasanya orang seperti itu sibuk menghitung pahala.

Dia sangat keliru dan jahil.
Pahala yang masih jauh sudah diperhitungkan.

Sungguh, sedikit pun tak akan dapat dicapainya.

Monday, August 25, 2014

Siri Belajar Tasawuf 7. Jika sembahyangnya baik, semua dianggap baik?

Jika sembahyangnya baik, semua dianggap baik?

Itu perlu ditafsirkan.
Tidak boleh difahami secara lurus makna dari Hadis tersebut.

Hadis itu mengandung logik sebagai berikut;

Orang yang tekun mengerjakan sembahyang
dengan sempurna,
maka perilaku,
budi pekerti dan kalbunya
juga harus terpengaruh untuk menjadi baik.

Sebab sembahyang yang dilakukan
dengan jiwa yang bersih
akan berpengaruh
kepada cabang kehidupan lainnya.

Hadis itu tidak berlaku
bagi orang yang tekun mengerjakan sembahyang
tetapi hatinya masih kotor,

tersimpan keinginan-keinginan nafsu
misalnya ingin dipuji orang lain,
terdapat ujub dan sombong,
serta budinya menyimpang dan melakukan yang dilarang.

Monday, August 18, 2014

Siri Belajar Tasawuf 6. Solat tetapi tidak sampai kepada Yang Disembah?

Solat tetapi tidak sampai kepada Yang Disembah?

Memang banyak orang
yang secara lahiriah nampak khusuk solatnya.

Bibirnya sibuk mengucapkan
zikir dan doa-doa,

namun hatinya melayang kepada urusan duniawi

Maka Islam yang demikian ini ibarat kelapa,
mereka hanya makan serabutnya.

Padahal paling nikmat adalah
isi kelapa dan air kelapanya.

Mereka sembahyang lima waktu setakat lahiriah saja.
Tidak berpengaruh sama sekali kepada akal budinya.

Padahal sembahyang itu
diharapkan dapat mencegah
keji dan munkar
mereka tak mampu melakukannya
dalam kehidupan sehari-hari.

Kalaupun hakikat solatnya itu
membekas pada budinya
itupun hanya sedikit.

Buat apa sembahyang lima kali jika perangainya buruk?
Masih suka mencuri dan berbohong.

Untuk apa bibir petah berzikir
menyebut asma Allah,

 jika masih berwatak suka mengingkari asmaNYA.

Kadang-kadang pula mereka berharap pahala.
Solatnya saja belum tentu dihargai oleh Allah,

tetapi tanpa segan silu meminta balasan …
Pelik!

Monday, August 11, 2014

Siri Belajar Tasawuf 5. Adakah ibadahnya orang khusus itu adalah kehendak Allah?

Adakah ibadahnya orang khusus itu adalah kehendak Allah?

Benar!
Mereka mempunyai kejernihan akal budi.
Memiliki kebersihan jiwa dan ilmu.

Solat lima waktu dan
berzikir
merupakan kehendak
yang sangat dalam.

Bukan kehendak nafsunya,
namun kehendak Allah.

Semangatnya sedemikian besar.

Mereka solat tdak mengharapkan pahala,
tetapi merupakan suatu kewajiban diri dan
pengabdian.

Badan haluslah yang mendorong untuk menjalankan.

Monday, August 4, 2014

Siri Belajar Tasawuf 4. Apakah kehendak seseorang itu kerana kemauan Allah?

Apakah kehendak seseorang itu kerana kemauan Allah?

Untuk sampai pada jawaban itu,
 kita harus membezakan seseorang mana.
Manusia itu dibezakan mengikut beberapa tingkatan.

Ada yang awam,
ada yang khusus

Orang awam hanya beribadah secara Syariat,
 tanpa dapat memelihara kalbu,
 maka ia masih jauh bisa berhubungan dengan Allah.

Sedangkan orang-orang Khusus
termasuk para Nabi, Rasul dan waliyullah,
mereka beribadah secara khusus

Bahkan sampai pula pada tingkatan hakikat.
Kalau kalbunya sudah bersih dari duniawi dan
menyatu dengan cahaya Ilahi,
maka kehendak dan
kemauannya itu berasal dari Allah.

Perbuatannya adalah perbuatan Allah.
Maka jangan hairan jika ada orang yang diberi karomah
sehingga segala cakapnya menjadi nyata

Monday, July 28, 2014

Siri Belajar Tasawuf 3. Allah tidak memerlukan sesuatu?

Allah tidak memerlukan sesuatu?

Benar  Allah tidak memerlukan sesuatu.

Karena itu jika kalian hidup tanpa memerlukan sesuatu, tanpa perlukan harta benda, tanpa perlu organisasi, tanpa harapkan pujian, maka kita akan merasakan hidup yang sesungguhnya. Kalian akan seolah-olah memiliki sifat Allah tersebut.

Kalau manusia menghindari sesuatu dan merasa tidak memerlukan apapun, apakah akhirnya dapat disamakan dengan Allah?

 Tidak! walaupun manusia hidup tanpa bergantung sama sekali kepada duniawi, namun ia tetap berbeda dengan Allah. Tidak mampu disamakan dengan Tuhan. Allah adalah pencipta dan kita adalah yang diciptakan.

Allah berdiri sendiri, tanpa memerlukan bantuan.
Hidupnya tanpa roh,
 tidak merasa sakit dan kesedihan,

Allah muncul sekehendaknya.